Kamis, 25 Februari 2010

Hawa Nafsu VS Ibadah

Rata PenuhSiapakah yang mengeluarkan seruan kepada mereka untuk berjihad? Bukankah dengan Kitabullah (AL-Qur’an) dan peran Rasulullah saw. sang penunjuk jalan?

Ibadah

Sesungguhnya orang yang menjadikan hidupnya hanya untuk memenuhi nafsu syahwatnya bukanlah seorang hamba Allahyang hakiki, tetapi dia hanyalah seorang hamba nafsu syahwatnya. Allah SWT telah berfirman :

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridloan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang baik”. (Al-’Ankabut :69)

Maksudnya, orang-orang yang berusaha untuk mengetahui dan memahami, niscaya Allah akan memahamkannya.

Orang-orang yang menginginkan pemahaman terhadapa agama, niscaya Allah akan memberikan kepahaman kepada mereka. Orang-orang yang menginginkan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat, niscaya Allah akan menjadikan mereka sebagai hamba pilihan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam hadits Qudsi :

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka dia telah berani untuk mengumumkan perang dengan-Ku. Tidaklan seorang hamba-Ku, bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan amal ibadah yang lebih Aku cintai selain daripada yang Aku wajibkan kepadanya. Selagi hamba-Ku itu mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, niscaya Aku akan menjadi pendengaran yang dia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, dan menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Kalau ia meminta kepada-Ku, Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hadits ini, beliau berkata, “Hadits ini membagi unat manusia menjadi dua bagian, yaitu : Sabiqun bil Khairat, orang yang lebih dahulu berbuatkebaikan (orang yang amal kebaikannya sangat banyak dan amal kejelekannya amat sedikit) dan Muqtashid, orang yang pertengahan (orang yang seimbang antara amal kebaikan dengan amal kejelekannya). Sementara Zhalimu li Nafsih, orang yang berbuat aniaya kepada dirinya sendiri, dia telah melalikan dan tidak peduli dengan dirinya.”

Allah SWT berfirman :

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamb Kami. Lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir [35] : 32).

Orang yang berbuat aniaya kepada dirinya sendiri akan tetap menjadi seorang muslim dalam

Nafsu

komunitas kaum muslimin. Meskipun dia melakukan dosa-dosa besar dan berbuat kemaksiatan. Hal itu tidak akan mengeluarkannya dari agama Islam, kecuali pemahaman kaum Khawarij.

Orang yang pertengahan adalah orang yang hanya melakukan ibadah-ibadah wajin dan menjauhi dosa-dosa besar. Akan tetapi dia meninggalkan ibadah-ibadah sunnah serta melakukan perkara-perkara yang makruh.

Sedangkan orang yang lebih dahulu melakukan kebaikan–kita memohon kepada Allah, semoga dengan keutamaan-nya, kita termasuk dalam golongan ini–adalah orang yang melakukan ibadah-ibadah wajib, sunnah dan ibadah yang dianjurkan serta meninggalakn dosa-dosa besar. Menjauhi perkara-perkara yang terlarang dan yang mekruh. Allah SWT berfirman :

“Demikian karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yng besar”. (Al-Jumu’ah : 4)

http://syariah01.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar